PRESS RELEASE

Online Open House

Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial,  FK-KMK UGM

 Dalam rangka mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru tahun 2020, Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial (Perkesling), FK-KMK UGM mengadakan Online Open House agar calon mahasiswa mengenal lebih dekat Departemen Perkesling FK-KMK UGM serta minat-minat di dalamnya, antara lain: Minat Perilaku dan Promosi Kesehatan (PPK), Minat Kesehatan Lingkungan (Kesling), dan Minat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Acara yang berlangsung tanggal 25 Juni 2020, bertujuan memberikan informasi secara lengkap tentang Departemen Perkesling kepada calon mahasiswa dari seluruh Indonesia melalui zoom meeting, youtube live dan Instagram live.Selain itu, kegiatan ini merupakan sarana bagi calon mahasiswa, mahasiswa, alumni, maupun dosen untuk saling berbagi serta berdiskusi mengenai berbagai macam hal terkait proses belajar mengajar, prospek lulusan, peluang kerjasama, kegiatan akademis dan non-akademis, fasilitas kampus, dan banyak lainnya.

Acara yang dimoderatori oleh Fitrina Kusumaningrum, SKM., MPH, dosen Departemen Perkesling ini diawali dengan pemutaran video company profile yang berdurasi kurang lebih tiga menit, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Departemen Perkesling, dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH, PhD. dr. Fatwa menuturkan bahwa acara kali ini bertujuan untuk mengenalkan minat-minat di Departemen Perkesling, proses belajar di masa pandemi, dan kontribusi departemen dalam kegiatan respon cepat penanganan Covid-19. dr. Fatwa juga menginformasikan bahwa selain perkuliahan, akan ada pelatihan secara berkala dan juga Webinar setiap hari Rabu.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, MSi, PhD yang secara detil menyampaikan tentang proses belajar mengajar di departemen, yaitu mengenai kurikulum departemen yang mengacu pada Public Health di Amerika dan dilanjutkan dengan akreditasi Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat. Tidak hanya itu, Prof. Yayi juga menerangkan tentang kegiatan-kegiatan yang bisa diikuti oleh mahasiswa dan fasilitas yang bisa digunakan selama menjadi peserta didik di UGM. Di akhir sesinya, Prof. Yayi menjabarkan tata cara pendaftaran mahasiswa baru UGM serta beberapa perubahan, contohnya penangguhan sertifikat Tes Potensi Akademik (TPA) dan kemampuan Bahasa Inggris karena adanya pandemi Covid-19.

Narasumber berikutnya adalah mahasiswi minat K3, Izzatul Alifah, SKM menceritakan pengalamannya dari awal mendaftar kuliah di Departemen Perkesling, orientasi mahasiswa, sampai dengan kegiatan perkuliahannya saat ini. Mahasiswi yang akrab dipanggil Izza ini tidak menyangka berkuliah di Departemen Perkesling ia akan dikelilingi oleh orang-orang hebat. Izza juga menuturkan bahwa baik kegiatan akademis maupun non-akademis di kampus sangat menunjang pengetahuan dan keahliannya serta mendorongnya untuk selalu ingin berproses.

Kesan yang sama juga diungkapkan oleh Ignatius Gonggo,SKM., MPH yang merupakan alumnus minat PPK yang juga menjadi narasumber pada kegiatan ini, bernostalgia akan kehidupan kampusnya yang sungguh berkesan. Gonggo menceritakan bahwa selama berkuliah, ia mendapat supporting system yang sangat baik, mulai dari dosen, staf, proses pembelajaran, hingga fasilitas seperti perpustakaan yang memadai. Gonggo mengimbau kepada calon mahasiswa untuk berkomitmen dalam belajar ketika nanti sudah diterima di Departemen Perkesling.

Pada sesi tanya jawab dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya, Departemen Perkesling FK-KMK UGM membuka pendaftaran mahasiswa baru bagi lulusan S1 dan D4, serta kuota per minat sejumlah 20 mahasiswa. Untuk jurusan tertentu misalnya keperawatan, tidak perlu mengambil profesi terlebih dahulu untuk dapat mendaftar S2 di Departemen Perkesling, dan untuk lulusan D4 akan diadakan kegiatan matrikulasi tetapi yang sifatnya tidak memberatkan dan fokus pada penguatan teori. Tema proposal penelitian yang dikumpulkan pada saat pendaftaran tidak harus sama dengan proposal tesis karena ketika kuliah tentu akan mendapat insight baru. Namun, perlu diingat bahwa mahasiswa harus siap dengan tesisnya masing-masing serta disiplin, komitmen, dan belajar manajemen waktu agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu.

Diskusi yang telah berjalan selama hampir 1,5 jam tersebut akhirnya ditutup dengan closing remaks dari para pembicara. Gonggo berpesan kepada calon mahasiswa untuk berusaha keras dan tidak menyia-nyiakan dukungan dan fasilitas kampus yang sangat baik, Izza meyakinkan calon mahasiswa untuk segera mendaftar S2 karena banyak sekali benefit yang akan didapat, Prof. Yayi mengingatkan kembali bahwa masih banyak dibutuhkan ahli-ahli di bidang PPK, Kesling, K3 dan UGM merupakan pilihan terbaik untuk melanjutkan studi, terakhir, dr. Fatwa berpesan agar calon mahasiswa tetap semangat dan jangan pernah lelah dalam mencari ilmu. (Nia-Vivian-Kontributor)

Penggunaan Data BPJS Kesehatan/DaSK untuk Perencanaan Intervensi Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan bersifat kontekstual dan data sangatlah penting dalam perencanaan intervensi promosi kesehatan. Pada tahap manajemen perencanaan promosi kesehatan, data diperlukan untuk menunjang pengambilan keputusan pada setiap langkah perencanaan untuk mengalokasikan sumber daya secara optimal. Pada tahap analisis situasi data diperlukan untuk melihat trend, isu dan kondisi yang kemudian digunakan dalam analisis kebutuhan dan prioritas.

Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM mengadakan seminar rutin setiap hari Rabu untuk membahas isu-isu kesehatan terkini. Pada Rabu 26 Februari 2020 Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial menyelenggarakan seminar rutin tersebut dengan tema “Penggunaan Data BPJSK/DaSK (Dashboard Sistem Kesehatan) untuk Perencanaan Promosi Kesehatan”. Pembicara dalam seminar tersebut adalah Dr.Dra.Retna Siwi Padmawati, dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial. Sebagai Pembahas adalah Dr.Supriyati, S.Sos., M.Kes, dosen dari departemen yang sama.

DaSK (Dashboard Sistem Kesehatan) memuat data yang terkait dengan indikator-indikator pembangunan kesehatan, beban penyakit, dan berbagai data lain dalam sistem kesehatan Indonesia. Selain itu DaSK juga berisi barbagai penelitian kebijakan, analisis kebijakan, dan rekomendasi kebijakan berbasis data untuk berbagai masalah dan tntangan prioritas dalam sistem kesehatan. Data yang terdapat dalam DaSK bersumber dari 1% data BPJS Kesehatan tahun 2015 dan 2016. Data yang tersedia antara lain data mengenai utilisasi peserta JKN, portabilitas peserta JKN, dan peta penyakit layanan rujukan. DaSK dapat diakses di https://kebijakankesehatanindonesia.net/datakesehatan/.

Penggunaan data dalam DaSK untuk upaya preventif dan promotif antara lain untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Dalam UKP sebagai contoh adalah data PCARE yang digunakan untuk melihat seberapa besar pasien diabetes dan hipertensi yang terkontrol per periode. Data ini dapat digunakan sebagai dasar suatu intervensi prevensi dan promosi agar pasien dapat terdiagnosis lebih awal dan semua pasien yang telah terdiagnosis, rajin untuk melakukan pemerikasaan kesehatan sehingga penyakit dapat terkontrol dan tidak bertambah parah. Dalam UKM, data penyakit dan utilisasi peserta dapat digunakan untuk melihat tren dan besaran penyakit per periode, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan utuk peningkatan upaya promosi dan prevensi seperti paradigm sehat, literasi kesehatan, screening/penapisan dan sebagainya.

Data merupakan bukti yang kuat dalam perencanaan suatu intervensi dan pengambilan kebijakan. Namun, komitmen Dinas Kesehatan dan Pemerintah Daerah juga sangat penting dalam perumusan kebijakan tersebut. Dinas Kesehatan dan Pemerintah daerah harus memastikan bahwa Standar Pelayanan Minimum (SPM) dapat terpenuhi. Selain itu, harus disadari bahwa beban Puskesmas dan Dinas Kesehatan bukan hanya kuratif, tetapi juga upaya preventif dan promotif. Dalam pengembangan promosi kesehatan dibutuhkan banyak data, namun karena keterbatasan sumber daya, tidak semua data dapat disediakan sendiri. Data DaSK dapat digunakan untuk menunjang penngembangan promosi kesehatan.

Kontributor: Luthfi

Materi : 1. Penggunaan Data BPJS untuk Perencanaan Intervensi Promosi Kesehatan

2. Promosi Kesehatan dengan Berbasis data 

Untuk Informasi Lebih lanjut bisa bukan website : https://um.ugm.ac.id/v.2015/id_home.php?d=depan

Dalam era 4.0, masyarakat seharusnya memiliki kecakapan dalam memanfaatkan dunia digital untuk menghindari penyebaran berbagai informasi yang tidak benar (hoax) di masyarakat. Kecakapan tersebut terdiri dari kecakapan dalam mengakses, menyeleksi, memahami, mendistribusikan, memproduksi, memverifikasi, mengevaluasi, berpartisipasi dan berkolaborasi dalam dunia digital. Dalam dunia kesehatan, kecakapan tersebut atau yang biasa disebut sebagai literasi digital sangat penting untuk menyaring dan mengantisipasi berbagai informasi kesehatan di masyarakat.

Pembahasan mengenai literasi digital kesehatan menjadi poin utama yang disampaikan dalam seminar “Digital Health Promotion: Merespon Tantangan Era 4.0 di Bidang Kesehatan”  yang diprakarsai oleh Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat bekerjasama dengan Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan keperawatan (FK-KMK) UGM pada Rabu, 2 Oktober 2019. Seminar ini menghadirkan Wisnu Martha Adiputra SIP., MA, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) UGM, dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH., Ph.D., pemerhati dan penggiat promosi kesehatan digital FK-KMK UGM dan Wisaksono Adhi, manager INAHEALTH FK-KMK UGM. Seminar yang dimoderatori oleh Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes. ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta baik dari dalam maupun luar UGM, secara langsung maupun melalui webinar.

Selain literasi digital, kolaborasi juga menjadi hal penting yang perlu dilakukan oleh promotor kesehatan. Di era digital dan disruptif ini, tenaga kesehatan dituntut untuk mempunyai keterampilan sosial dan emosional yang meliputi kepemimpinan, kewirausahaan dan kemampuan negosiasi; serta kemampuan menganilisis, menginterpretasi informasi yang kompleks dan keterampilan berpikir kritis. Dalam kasus pengembangan INAHEALTH, sebuah saluran informasi kesehatan FK-KMK UGM, misalnya, kolaborasi antara tenaga kesehatan serta praktisi pertelevisian menjadi kunci penting dalam berhasilnya promosi kesehatan digital. Sebagai salah satu gerakan promosi kesehatan digital, hingga saat ini saluran INAHEALTH dalam platform Youtube telah dilanggan lebih dari 5000 pelanggan.

Oleh karena itu, kolaborasi dan penanaman literasi digital perlu dikuatkan untuk menghadapi tantangan era 4.0 dan society 5.0. Melalui kolaborasi dan penanaman literasi digital, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan dunia digital dengan bijak dan optimal. Materi dan hasil diskusi seminar dapat diakses melalui link  http://ugm.id/digitalhp . (Kontributor: Fitrina/Luthfi)

Kendalikan Stress, Tingkatkan Aktivitas Fisik, dan Pola Makan Sehat: Kampanye Healthy Campus Mahasiswa S2 Minat Perilaku dan Promosi Kesehatan

HPU FK-KMK UGM- Kegiatan promosi dan pendidikan kesehatan adalah salah satu langkah nyata dalam merealisasikan HPU (Health Promoting University), seperti kegiatan kampanye kampus sehat yang telah dilakukan oleh mahasiswa S2 Minat Perilaku dan Promosi Kesehatan, Departemen HBES (Health Behavior, Environment and Social Medicine). Kegiatan sosialisasi kampus sehat dilakukan di tiga fakultas di UGM, yaitu Fakultas Farmasi, Teknologi Pertanian, dan Fisipol,  melalui kegiatan promosi kesehatan mental, healthy food, dan kantin sehat.

Berdasarkan hasil analisis komunitas yang telah dilakukan tim promkes UGM melalui survei didapatkan sebanyak sebanyak 21,4% dari 56 responden mengaku kadang-kadang pernah terlintas untuk bunuh diri serta terdapat 5,4% yang menjawab selalu terlintas untuk bunuh diri. Disamping itu, kebutuhan akan makan sehat dirasa sangat perlu, karena 64% dari 74 mahasiswa Teknologi Pertanian tidak terbiasa sarapan pagi, serta kesukaan akan gorengan dan junk food, tidak suka sayuran dan buah.

Berbagai jenis kegiatan yang sudah dimulai sejak bulan Februari hingga September mulai dari pembuatan poster, video, lomba infografis, seminar stand up and be resilience, senam, pelatihan pembuatan video, pembentukan posbindu PTM, pelatihan kantin sehat, serta pembentukan peer support yang dipresentasikan mahasiswa pada hari Senin, 30 September 2019 di Gazebo IKM UGM. Dengan adanya kegiatan kampanye HPU ini diharapkan dapat meningkatkan peran aktif mahasiswa dalam penerapan ilmu yang telah di dapat sebelumnya di kelas (Vivian).

Era revolusi industri 4.0 serta society 5.0 perlu direspon secara inovatif oleh promotor kesehatan. Pendekatan mitigasi faktor risiko dan genomic dipadukan dengan smart approach perlu mulai dibangun untuk menghadapi disrupsi promosi kesehatan dan mendorong adopsi healthy lifestyle dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Rizkiyana Sukandhi Putra, M.Kes., dalam seri seminar kerjasama antar profesi bertemakan “Implementasi Health Promoting University di Indonesia: Peluang dan Tantangannya” yang dilaksanakan oleh Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK), UGM pada Rabu, 18 September 2019.

Disrupsi promosi kesehatan ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan health promoting university, yaitu sebuah program yang mendorong penerapan pola hidup sehat oleh mahasiswa, dosen dan staf di lingkungan kampus sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas sivitas akademika. Prof. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. sebagai penggiat program health promoting university serta salah satu perancang kerangka pengembangan kampus sehat ASEAN University Network (AUN)– Health Promotion Network (HPN) juga menekankan bahwa melalui program health promoting university yang inovatif, sivitas akademika dapat menjadi agent of change di lingkungannya, sehingga dapat ikut mempromosikan pola hidup sehat pada masyarakat yang lebih luas. Gerakan health promoting university di UGM sendiri telah dikembangkan sejak tahun 1999, di mana pada tanggal 19 Juli 2019 UGM telah mendeklarasikan diri sebagai health promoting university.

Sesi seminar yang dimoderatori oleh Dr. Supriyati, S.Sos. M.Kes, dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial FK-KMK UGM, dan diikuti oleh hampir 200 peserta baik dari dalam maupun luar UGM ini juga menjadi momentum diluncurkannya buku panduan kerangka pengembangan kampus sehat (healthy university framework) dari AUN-HPN yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Melalui buku panduan ini, diharapkan seluruh sivitas akademika dapat semakin mudah melakukan program health promoting university. Selain buku panduan, terdapat berbagai media lain yang dapat dimanfaatkan oleh promotor kesehatan untuk mengembangkan program health promoting university dan dapat diakses secara gratis. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat diadopsi oleh perguruan tinggi lainnya serta medorong peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Media HPU dan materi dapat diakses melalui link: http://ugm.id/mediahpu dan  http://ugm.id/seminarhpuseptember

ASEAN University Network – Health Promoting University (AUN-HPN) telah meluncurkan kerangka kerja Health Promoting University (HPU) pada tahun 2017.  Sebelumnya, WHO telah menerbitkan buku berjudul “Health Promoting University: Concept, Experience and Framework for Action” (WHO, 1998). Health Promoting University merupakan kampus sehat yang mendukung dan mendorong setiap sivitas akademikanya untuk hidup sehat.

Universitas sebagai tempat beraktivitas bagi mahasiswa maupun dosen dan tenaga kependidikannya, diharapkan menjadi lingkungan yang mendukung terbentuknya perilaku hidup sehat. Dengan demikian, semua sivitas akademika dapat hidup sehat dan produktif. Pada gilirannya, HPU tersebut juga memberikan dampak yang lebih luas pada masyarakat di sekitar kampus.

Pada Bulan Agustus 2019, telah ditandatangi Deklarasi Manila yang menegaskan kampus sebagai pusat untuk kesehatan dan kebugaran. Universitas Gadjah Mada, merupakan salah satu perguruan tinggi di ASEAN yang turut menandatangi Deklarasi tersebut, dan juga turut menjadi salah satu tim penyusun kerangka kerja HPU pada tahun 2017. Beberapa aktivitas yang menunjukkan upaya implementasi HPU di UGM pun telah dilaksanakan. Pada tahun 2018, beberapa fakultas telah menginisiasi pengembangan HPU pada level fakultas, seperti yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Fakultas Teknik, Sekolah Vokasi Teknik Mesin, maupun Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, hingga pada tanggal 19 Juli 2019 UGM telah mendeklasikan diri sebagai health promoting university. Berbagai aktivitas tersebut dapat didorong untuk menjadi “best practices” agar dapat diimplementasikan pada berbagai kampus di Indonesia. Tentu saja, Yogyakarta yang memiliki cukup banyak perguruan tinggi merupakan peluang tersendiri untuk pengembangan HPU pada skala yang lebih luas. Selain itu, HPU juga mendorong kerjasama antar profesi dan berbagai bidang keilmuan di dalam universitas. Dengan demikian, pelaksanaan HPU diharapkan dapat menjadi wadah bagi civitas akademika untuk mengimplementasikan, menganalisis, menilai dan memberikan masukan terhadap tantangan pelaksanaan kerjasama interprofesi dalam lingkup universitas maupun dalam lingkup masyarakat luas.

Oleh karena ini, Program Studi S2 IKM bermaksud untuk mengadakan seminar untuk membahas peluang dan tantangan implementasi HPU. Seminar ini sekaligus sebagai sarana soft launching Kerangka Kerja HPU (AUN–HPN) yang berbahasa Indonesia yang telah diterjemahkan oleh tim HPU UGM.