Era revolusi industri 4.0 serta society 5.0 perlu direspon secara inovatif oleh promotor kesehatan. Pendekatan mitigasi faktor risiko dan genomic dipadukan dengan smart approach perlu mulai dibangun untuk menghadapi disrupsi promosi kesehatan dan mendorong adopsi healthy lifestyle dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Rizkiyana Sukandhi Putra, M.Kes., dalam seri seminar kerjasama antar profesi bertemakan “Implementasi Health Promoting University di Indonesia: Peluang dan Tantangannya” yang dilaksanakan oleh Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK), UGM pada Rabu, 18 September 2019.

Disrupsi promosi kesehatan ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan health promoting university, yaitu sebuah program yang mendorong penerapan pola hidup sehat oleh mahasiswa, dosen dan staf di lingkungan kampus sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas sivitas akademika. Prof. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. sebagai penggiat program health promoting university serta salah satu perancang kerangka pengembangan kampus sehat ASEAN University Network (AUN)– Health Promotion Network (HPN) juga menekankan bahwa melalui program health promoting university yang inovatif, sivitas akademika dapat menjadi agent of change di lingkungannya, sehingga dapat ikut mempromosikan pola hidup sehat pada masyarakat yang lebih luas. Gerakan health promoting university di UGM sendiri telah dikembangkan sejak tahun 1999, di mana pada tanggal 19 Juli 2019 UGM telah mendeklarasikan diri sebagai health promoting university.

Sesi seminar yang dimoderatori oleh Dr. Supriyati, S.Sos. M.Kes, dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial FK-KMK UGM, dan diikuti oleh hampir 200 peserta baik dari dalam maupun luar UGM ini juga menjadi momentum diluncurkannya buku panduan kerangka pengembangan kampus sehat (healthy university framework) dari AUN-HPN yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Melalui buku panduan ini, diharapkan seluruh sivitas akademika dapat semakin mudah melakukan program health promoting university. Selain buku panduan, terdapat berbagai media lain yang dapat dimanfaatkan oleh promotor kesehatan untuk mengembangkan program health promoting university dan dapat diakses secara gratis. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat diadopsi oleh perguruan tinggi lainnya serta medorong peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Media HPU dan materi dapat diakses melalui link: http://ugm.id/mediahpu dan  http://ugm.id/seminarhpuseptember

ASEAN University Network – Health Promoting University (AUN-HPN) telah meluncurkan kerangka kerja Health Promoting University (HPU) pada tahun 2017.  Sebelumnya, WHO telah menerbitkan buku berjudul “Health Promoting University: Concept, Experience and Framework for Action” (WHO, 1998). Health Promoting University merupakan kampus sehat yang mendukung dan mendorong setiap sivitas akademikanya untuk hidup sehat.

Universitas sebagai tempat beraktivitas bagi mahasiswa maupun dosen dan tenaga kependidikannya, diharapkan menjadi lingkungan yang mendukung terbentuknya perilaku hidup sehat. Dengan demikian, semua sivitas akademika dapat hidup sehat dan produktif. Pada gilirannya, HPU tersebut juga memberikan dampak yang lebih luas pada masyarakat di sekitar kampus.

Pada Bulan Agustus 2019, telah ditandatangi Deklarasi Manila yang menegaskan kampus sebagai pusat untuk kesehatan dan kebugaran. Universitas Gadjah Mada, merupakan salah satu perguruan tinggi di ASEAN yang turut menandatangi Deklarasi tersebut, dan juga turut menjadi salah satu tim penyusun kerangka kerja HPU pada tahun 2017. Beberapa aktivitas yang menunjukkan upaya implementasi HPU di UGM pun telah dilaksanakan. Pada tahun 2018, beberapa fakultas telah menginisiasi pengembangan HPU pada level fakultas, seperti yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Fakultas Teknik, Sekolah Vokasi Teknik Mesin, maupun Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, hingga pada tanggal 19 Juli 2019 UGM telah mendeklasikan diri sebagai health promoting university. Berbagai aktivitas tersebut dapat didorong untuk menjadi “best practices” agar dapat diimplementasikan pada berbagai kampus di Indonesia. Tentu saja, Yogyakarta yang memiliki cukup banyak perguruan tinggi merupakan peluang tersendiri untuk pengembangan HPU pada skala yang lebih luas. Selain itu, HPU juga mendorong kerjasama antar profesi dan berbagai bidang keilmuan di dalam universitas. Dengan demikian, pelaksanaan HPU diharapkan dapat menjadi wadah bagi civitas akademika untuk mengimplementasikan, menganalisis, menilai dan memberikan masukan terhadap tantangan pelaksanaan kerjasama interprofesi dalam lingkup universitas maupun dalam lingkup masyarakat luas.

Oleh karena ini, Program Studi S2 IKM bermaksud untuk mengadakan seminar untuk membahas peluang dan tantangan implementasi HPU. Seminar ini sekaligus sebagai sarana soft launching Kerangka Kerja HPU (AUN–HPN) yang berbahasa Indonesia yang telah diterjemahkan oleh tim HPU UGM.